Ringkasan + Audio: Kajian rutin Kitab Shohih FiqhusSunnah – Ustadz Anwar Samuri

Bismillah,
Melanjutkan kaidah yang dibawakan oleh syaikh Ibnu Taimiyyah pada pertemuan sebelumnya, yaitu perkataan beliau bahwa syariat islam datang untuk mendatangkan atau memaksimalkan maslahat / kebaikan dan menghilangkan atau meminimalisir kemadhorotan / kejelekan.

Kaidah tersebut berdasarkan dalil dari Qur’an dan sunnah, diantaranya adalah:
1. Pada surat al-An’am ayat 103:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

artinya:
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Padahal secara asal sesembahan orang musyrik adalah boleh / baik untuk dicela karena memang tidak ada kebaikannya. Akan tetapi jika mencela kemadhorotannya sangat besar dibandingkan jika kita mendiamkannya, karena jika kita mencela sesembahan orang musyrik maka ia akan ganti membalas mencela Allah dengan sekehendak mereka, maka dari itu diam untuk menghilangkan kemadhorotan besar tersebut lebih baik.

2. Hadits dari Abdullah bin Zubari bin Awwam:
Aku pernah mendengar [Aisyah] berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya orang-orang tidak baru saja meninggalkan kekufuran dan seandainya aku mempunyai biaya yang cukup untuk membangun Baitullah sekarang ini, maka tentu aku sudah memasukkan hijr dan aku buat satu pintu masuk serta satu pintu keluar.” (HR. muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa rosul meninggalkan renovasi ka’bah karena meminimalisir madhorot, karena jika melakukan renovasi ka’bah setelah pembebasan kota Makkah maka madhorotnya lebih besar dibandingkan jika meninggalkan renovasi ka’bah.

Dalam syariat islam, bohong adalah hal yang dilarang. Dikecuali pada 3 keadaan atau 3 masalah:
1. Saat jihad fisabilillah (perang)
2. Kepada suami atau istri
3. Untuk mendamaikan antara 2 orang

Contoh hal yang boleh yang pada asalnya tidak boleh:
– Menyemir rambut dengan warna hitam untuk orang yang rambutnya sudah banyak yang putih dengan maksud untuk membuat gentar musuh.
– Melempar musuh dengan manjani’ (ketapel yang ukurannya besar dengan peluru batu yang besar) ke arah musuh, meskipun hal itu bisa saja mengenai wanita dan anak-anak, tetapi ingat para ulama’ memberi ketentuan – tidak boleh melempar dengan manjani’ kecuali apabila tidak memungkinkan lagi kecuali dengan itu (dalam keadaan sangat terpepet, misalkan musuh sudah di depan benteng).
– Diperbolehkannya wanita safar tanpa mahrom ketika bisa melarikan diri dari tawanan kaum kuffar.
– Dan masih banyak lagi hal lain.

Ulama’ mengatakan:
“Tidaklah dikatakan seorang ‘alim yang tahu suatu yang baik dan buruk, seorang dikatakan ‘alim ketika ia mengetahui yang terbaik diantara 2 kebaikan (dan mampu menjalankan yang terbaik) dan tahu yang paling jelek dari dua kejelekan dan mampu meninggalkan yang paling jelek.”.

Dan apabila hukum berkisar antara dua perkara dan tidak jelas bagi seorang ahli fiqih maka hendaklah ia tahu, bahwa hukum syariat itu selalu bersama dengan yang mendatangkan maslahat dan menolak mafsadat, dan ini adalah dalam hal-hal dalam tidak ada dalil secara khususnya dan waro’ di dalam fatwa adalah konsekuensi dari apa yang disebutkan. (Penimbangan maslahat dan mafsadat juga berdasarkan syariat).

Untuk mendengarkan audio kajian silahkan klik play di bawah ini:

Untuk download audio kajian silahkan klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *